Analis Prediksi Elektrifikasi Kendaraan di Indonesia Bisa Dipercepat Lewat 3 Hal Ini

Hampir semua negara di seluruh dunia sekarang berlomba-lomba untuk dapat segera mengadopsi teknologi kendaraan listrik. Negara kita sendiri juga tengah berusaha untuk dapat mengejar ketertinggalan, sekaligus berambisi untuk dapat menjadi salah satu pemain besar di pasar mobil listrik nantinya.

Meskipun untuk sekarang perkembangan kendaraan listrik di Indonesia masih di tahap awal, sebuah riset yang dilakukan oleh McKinsey & Company dan diunggah di The Jakarta Post memprediksi bahwa proses elektrifikasi kendaraan listrik di Indonesia dapat dipercepat lewat 3 hal.

Yaitu yang pertama adalah regulasi dimana peraturan pemerintah dan juga insentif/subsidi bisa menjadi pendorong utama percepatan adopsi kendaraan listrik. Pemerintah Indonesia sendiri sebenarnya telah memberikan beberapa insentif termasuk diskon saat pengisian daya serta pajak kepemilikan.

Kedua adalah teknologi dan biaya, dengan semakin berkembangnya kendaraan listrik maka diharapkan nantinya harga kendaraan listrik bisa semakin terjangkau. Meskipun untuk sekarang kendala utamanya masih ada pada harga baterai yang masih tinggi.

Sedangkan yang terakhir adalah keberlanjutan teknologi kendaraan listrik ini kedepannya. Para calon konsumen kendaraan listrik tentu akan semakin yakin untuk mengambil kendaraan listrik bila ada banyak pilihan model serta sudah tersebarnya infrastruktur pendukungnya seperti stasiun pengisian cepat dan juga stasiun penukaran baterai.

Karena untuk sekarang pasar kendaraan listrik di Indonesia sendiri baru saja dimulai dengan presentasi pasar yang masih sangat kecil yaitu sekitar 15.000 unit atau hanya 0,2% dari total penjualan kendaraan di Indonesia, para analis dari McKinsey & Company juga membuat tiga skenario untuk memprediksi perkembangan kendaraan listrik di Indonesia ke depannya.

Pertama adalah “reference scenario” dimana pada 2030 mendatang jumlah kendaraan listrik di Indonesia akan mencapai 250.000 unit mobil listrik dan juga 1,9 juta unit motor listrik. Dimana jumlah tersebut akan mengisi pasar kendaraan di Indonesia sebanyak 16% untuk mobil dan mencapai 30% untuk motor.

Ada juga “accelerrated scenario” dimana produksi kendaraan listrik sudah dimaksimalkan secara lokal serta kondisi lainnya mendukung perkembangan kendaraan listrik secara penuh. Bila mampu terjadi maka presentase keberadaan kendaraan listrik ada 2030 nanti bisa mencapai 40% baik untuk kendaraan roda empat maupun roda dua.

Sedangkan skenario terburuk disebut sebagai “lagging scenario” yang mungkin terjadi ketika Indonesia nantinya terus kesulitan untuk mengajak pabrikan-pabrikan kendaraan lokal untuk mengembangkan mobil listrik serta pajak barang impor masih 50%. Hal ini akan membuat perkembangan kendaraan listrik di Indonesia pada 2030 mendatang malah turun ke angka 12% untuk roda 2, dan hanya 5% untuk kendaraan listrik roda 4.

Pada akhirnya, ada tiga faktor pendorong yang bisa diusahakan yaitu meningkatkan produksi jangka panjang nikel untuk baterai, manufaktor lokal, dan juga peningkatan infrastruktur pendukung.


Jangan lupa follow kita di Instagram @momotrik.id dan juga like Facebook Page kita di @momotrik.id untuk medapatkan informasi menarik lainnya seputar mobil dan motor listrik!!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *